LAPORAN HASIL P…

LAPORAN HASIL PENGAWETAN SPESIMEN

AWETAN BASAH DAN KERING

disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Teknologi  Informasi dan Komunikasi

dosen pembimbing : Resyi A.Gani,s.kom., M.pd

 

 
   

 

 

 

 

 

 

 

 

 

disusun oleh :

 

Siti Sari Maesaroh                ( 0361 11 014 )

 

Semester : II / A

 

 

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS PAKUAN

BOGOR

2012


 

KATA PENGANTAR

 

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT karena berkat rahmat-Nya lah laporan mengenai pengawetan basah dan kering pada specimen ini dapat selesai tepat pada waktunya.

Dengan selesainya laporan ini penulis mengucapkan terimakasih kepada pihak yang telah banyak berperan khususnya kepada Ibu Lilis Suprratman, S.Pd selaku dosen mata kuliah Teknik Laboratorium yang telah membimbing serta memberikan ilmu pengetahuan mengenai segala hal yang berkaitan dengan teknik laboratorium sehingga pada akhirnya laporan ini dapat menjadi salah satu bahan pengetahuan baru bagi kami.

Dalam penulisannya penulis menyadari bahwa laporan ini tentunya masih memiliki banyak kekurangan. Maka dalam kesempatan ini juga penulis memohon maaf atas segala keterbatasan yang terdapat dalam laporan.

Namun besar harapan penulis yaitu semoga laporan ini mampu memotivasi penulis maupun pembaca untuk terus mengembangkan ilmu pengetahuan baru untuk saat dan nanti.

 

 

 

Bogor,  Juli 2012

 

 

 

                                                                                                                       Penulis.

DAFTAR ISI

 

 

KATA PENGANTAR.. i

DAFTAR ISI. ii

TEKNIK PENGAWETAN SPESIMEN.. 3

LEMBAR KERJA PRAKTIKUM Ke-1. 14

Alat dan Bahan. 14

Cara Kerja. 14

Pembahasan. 14

LEMBAR KERJA PRAKTIKUM Ke-2. 14

Alat dan Bahan. 14

Cara kerja. 14

Pembahasan. 14

DAFTAR PUSTAKA.. 14

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


TEKNIK PENGAWETAN SPESIMEN

 

Secara garis besar, ada dua cara pengawetan obyek biologi, yaitu pengawetan basah dan pengawetan kering. Pengawetan basah dilakukan dengan mengawetkan obyek biologi dalam suatu cairan pengawet. Pengawetan kering dilakukan dengan mengeringkan obyek biologi hingga kadar air yang sangat rendah, sehingga organism perusak/penghancur tidak bekerja.

Pengawetan basah dilakukan bagi hewan tidak bercangkang yang ukurannya relatif besar, direndam dalam larutan pengawet. Pengawetan kering untuk organisme yang berukuran relatif besar biasanya dilakukan dengan cara mengeringkan dengan sinar matahari atau dengan oven dan selanjutnya agar lebih awet dapat disimpan dalam media pengawet resin (Bioplastik). Obyek yang dapat dijadikan sebagai specimen utama dalam pengawetan basah maupun kering merupakan objek biologi yang berukuran kecil hibgga yang berukuran besar.

 

1. Langkah-langkah Pengawetan

 

a. Koleksi

 

Hewan-hewan yang akan diawetkan dalam bentuk utuh dan akan dibawa ke kelas atau ke Laboratorium biasanya hewan-hewan yang berukuran relatif kecil. Hewan yang akan diawetkan ditangkap menggunakan alat yang sesuai. Hewan yang tertangkap dimasukkan dalam botol koleksi yang sudah diberi label.

 

b. Mematikan (Killing), Meneguhkan (Fixing), dan mengawetkan (Preserving)

 

Proses mematikan dan meneguhkan memerlukan perlakuan dan bahan tertentu. Bahan untuk mematikan biasanya adalah Ether, Kloroform, HCN/KCN, Karbon Tetracloride (CCL4) atau Ethyl acetat. Namun, kadangkadang perlu perlakuan khusus yaitu melalui pembiusan sebelum proses mematikan dilakukan, agar tubuh hewan yang akan diawetkan tidak mengkerut atau rusak. Pembiusan dilakukan dengan serbuk menthol atau kapur barus ke permukaan air tempat hidupnya, setelah tampak lemas, dan tidak bereaksi terhadap sentuhan, hewan dapat dipindahkan ke dalam larutan pengawet.

 

2. Bahan Pengawet

 

Beberapa bahan pengawet yang dapat digunakan antara lain: formalin, alcohol (ethil alkohol), resin atau pengawet berupa ekstrak tanaman. Bahan-bahan pengawet ini mudah dicari, murah dan hasilnya cukup bagus, meskipun ada beberapa kelemahan.

 

3. Sifat-sifat larutan pengawet

 

Bahan pengawet dan peneguh yang digunakan biasanya berbahaya bagi manusia, maka perlu dikenali sifat-sifatnya. Dengan mengenal sifat-sifat ini, diharapkan dapat dihindari bahaya yang mungkin ditimbulkan.

 

Alkohol, merupakan bahan yang mudah terbakar, bersifat disinfektan dan tidak

korosif.

Formalin, larutan mudah menguap, menyebabkan iritasi selaput lendir hidung, mata, dan sangat korosif, bila pekat berbahaya bagi kulit.

Ether, larutan mudah menguap, beracun, dapat membius dengan konsentrasi rendah, eksplosiv.

Kloroform, Larutan mudah menguap, dapat membius dan melarutkan plastic.

Karbon tetracloride, larutan mudah menguap, melarutkan plastik dan lemak, membunuh serangga.

Ethil acetat, larutan mudah menguap, dapat membius dan mematikan serangga atau manusia.

Resin, merupakan larutan yang tidak mudah menguap mudah mengeras dengan penambahan larutan katalis, karsinogenik, dapat mengawetkan specimen dalam waktu yang sangat lama.

KCN/HCN, larutan pembunuh yang sangat kuat, sangat beracun, bila tidak terpaksa jangan gunakan larutan ini.

 

4. Pengawetan kering

 

Pengawetan ini dilakukan pada hewan yang memiliki kerangka luar keras dan tidak mudah rusak akibat proses pengeringan. Pengeringan dilakukan dengan menggunakan oven atau dijemur di bawah terik matahari hingga kadar airnya sangat rendah. Sebelum dikeringkan hewan dimatikan dengan larutan pembunuh, kemudian hewan diatur posisinya. Hewan yang sudah kering kemudian dimasukkan dalam kotak yang diberi kapur barus dan silika gel. Tiap hewan yang diawetkan sebaiknya diberi label yang berisi nama, lokasi penangkapan, tanggal penangkapan dan kolektornya.

 

5. Bioplastik

 

Bioplastik merupakan pengawetan spesimen hewan atau tumbuhan dalam blok resin untuk digunakan sebagai media pembelajaran. Spesimen hewan atau tumbuhan dalam blok resin selain berfungsi sebagai media pembelajaran, juga dapat berfungsi sebagai ornamen.

Sebelum dicetak, resin berupa cairan yang kental. Resin merupakan senyawa organik hasil metabolisme sekunder, tersusun atas karbon. Senyawa ini akan mengalami polimerisasi dalam kondisi yang tepat. Reaksi polimerisasi bersifat eksoterm sehingga akan menimbulkan panas. Untuk mempercepat polimerisasi digunakan katalis. Jumlah cairan katalis yang ditambahkanakan mempengaruhi terhadap cepat atau lambatnya proses polimerisasi, efeknya adalah jumlah panas yang dikeluarkan. Semakin banyak katalis yang ditambahkan akan semakin cepat dan semakin panaas.

 

 

 

 

  1. 6.    Taksidermi

 

            Taksidermi merupakan istilah pengawetan untuk hewan pada umumnya, vertebrata pada khususnya, dan biasanya dilakukan terhdap hewan yang berukuran relatif besar dan hewan yang dapat dikuliti termasuk beberapa jenis reptil, burung, dan mammalia. Organ dalam dikeluarkan dan kemudian dibentuk kembali seperti bentuk asli ketika hewan tersebut hidup (dikuliti, hanya bagian kulit yang tersisa).

Pengetahuan tentang kulit ini, sering dipakai sebagai bahan referensi untuk identifikasi hewan vertebrata, dan juga untuk menunjukkan bemacam-macam varietas yang terdapat di dalam species. Dengan kata lain taksidermi merupakan pengetahuan tentang skinning (pengulitan), preserving (pengawetan kulit), stuffing (pembentukan), dan mounting/opzet/pajangan (penyimpanan sesuai kondisi waktu hidup).

 

Biologi adalah suatu ilmu tentang kehidupan. Bagi siswa mempelajari tumbuhandan hewan dalam hubungannya dengan lingkungan sekitarnya adalah bagian penting dalammempelajari biologi. Untuk mengenal hakekat hidup, serta dalam kehidupan tersebutdiperlukan suatu cara atau metode.Pengawetan tumbuhan dan hewan sangat diperlukan terutama untuk memenuhikebutuhan pada masa yang akan datang, “dalam membantu” perkembangan ilmu. Awetanrangka dan anatomi tumbuhan maupun hewan sering diperlukan sebagai alat peraga dalamkegiatan belajar mengajar biologi di kelas. Adanya awetan yang dibuat sendiri sangatmembantu pengadaan alat peraga dan koleksi. Tanpa adanya pengawetan yang baik,tumbuhan dan hewan yang ditemukan dan dikoleksikan maka akan mengalami kerusakan,misalnya pengerutan atau pembusukanPengawetan hewan dan tumbuhan diperlukan terutama untuk memenuhi kebutuhan pada masa yang akan datang dan juga sebagai alat peraga dan eksperimen dalam kegiatan belajar mengajar.Pengawetan pada hewan dilakukan dengan dua macam cara, yaitu : pengawetan basah dan pengawetan kering. Taksidermi merupakan istilah pengawetan untuk hewan pada umumnya, vertebrata pada khususnya, dan biasanya dilakukan terhdap hewan yang berukuran relatif besar dan hewan yang dapat dikuliti termasuk beberapa jenis reptil, burung, dan mammalia. Organ dalam dikeluarkan dan kemudian dibentuk kembali seperti bentuk asli ketika hewan tersebut hidup (dikuliti, hanya bagian kulit yang tersisa). Pengetahuan tentang kulit ini, sering dipakai sebagai bahan referensi untuk identifikasi hewan vertebrata, dan juga untuk menunjukkan bemacam-macam varietas yang terdapat di dalam species.

Dengan kata lain taksidermi merupakan pengetahuan tentang skinning (pengulitan), preserving (pengawetan kulit), stuffing (pembentukan), dan mounting/opzet/pajangan (penyimpanan sesuai kondisi waktu hidup).

Bioplastik merupakan pengawetan spesimen hewan atau tumbuhan dalam blok resin untuk digunakan sebagai media/alat, baik itu untuk kepentingan pendidikan atau komersial tertentu ataupun tujuan tertentu

Teknik pengawetan hewan/tumbuhan dengan Bioplastik ini memiliki beberapa keunggulan antara lain : Kuat dan tahan lama, murah, menarik dan praktis dalam penyimpanan. Tapi teknik ini juga memiliki kelemahan yaitu objek asli tidak bisa disentuh/diraba (karena observasi hanya mengandalkan penglihatan saja).

Pengawetan dengan menggunakan poliester resin ini dapat dilakukan pada bahan segar, awetan kering, dan atau awetan basah. Pengawetan ini bisa untuk mengamati aspek morfologi, anatomi, jaringan, perbandingan, atau siklus hidupnya.

Prinsip dari teknik pewarnaan ini adalah mewarnai bagian tulang vertebrata sehingga bisa dengan jelas membedakan tulang-tulang vertebrata secara khsusus, dan ini bisa digunakan untuk keperluan identifikasi ataupun determinasi vertebrarta secara umum.

Pengamatam terhadap pertumbuhan perkembangan tulang suatu hewan terkadang sulit kalau tanpa merusak hewan tersebut. Dengan ditemukannya metode pewarnaan tulang dan tulang rawan dengan tidak perlu merusak tubuh hewannya, merupakan sarana untuk penelitian keadaan dan perkembangan tulang.

Dengan hanya mewarnai tulang dan rawan saja, sedangkan yang lainnya bening maka kita bisa mengamati berbagai hal, diantaranya bentuk, perkembangan dan kecacatannya dari suatu hewan vertebrata pada tingkat perkembangan yang bervariasi.

 

Pengawetan kering dilakukan dengan taksidermi dan pembuatan rangka. Bentuk Seni yang Menarik Praktik metode para taxidermist telah meningkat selama satu abad terakhir dengan mempertinggi kualitas taxidermic dan menurunkan kualitas toksisitas. Prosesnya sama ketika menghilangkan kulit dari ayam yang belum dimasak. Proses taxidermy dapat dicapai.
            Praktik itu bergantung pada jenis kulit dan bahan kimia yang diterapkan pada kulit sehingga menjadi kulit yang kecokelatan. Kemudian dipasangkan pada manekin yang terbuat dari kayu, wol, dan kawat, atau bentuk poliuretan. Banyak ahli kulit AS menggunakan hewan beruang sebagai bahan taxidermy, tetapi sebagian dari mereka menggunakan ular, burung, dan ikan sebagai objek taxidermy. Pemasangan binatang telah lama dianggap sebagai suatu bentuk seni yang menarik. Seni ini membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk pengerjaannya. Tidak semua taxidermist modern menjadikan taxidermy ajang memburu trofi atau komersialitas. Dengan cara pembekuan, spesimen taxidermy dapat disimpan dan digunakan kemudian. Ahli pengisi binatang kemudian menghilangkan kulit.  Kulit akan tampak kecokelatan dan diobati dengan bahan kimia. Kemudian melakukan pengukuran pada kulit yang tersisa untuk mengambil beberapa bagian tubuh dan kulit. Sebuah metode tradisional yang masih populer saat ini dengan cara melibatkan dan mempertahankan tengkorak asli dan tulang kaki dari spesimen, dan menggunakannya sebagai dasar untuk pembuatan manekin, dibuat dari rol kayu dan kawat galvanis. Ada cara lain dari metode ini, yaitu memplester bangkai hewan secara rapi, kemudian membuat salinan dari hewan tersebut dengan menggunakan salah satu dari beberapa metode pembuatan taxidermy. Kemudian sebuah cetakan akhir terbuat dari resin poliester dan kain kaca. Suatu bentuk poliuretan dibuat untuk produksi akhir. Cetakan yang digunakan untuk menghasilkan tokoh binatang disebut”bentuk”.

            Bentuk juga dapat dibuat dengan patung hewan di tanah liat. Banyak orang menghasilkan bentuk dan dijadikan stok dalam berbagai ukuran. Kemudian mata kaca biasanya ditambahkan ke dalam bentuk, dan dalam beberapa kasus menggunakan gigi palsu, lidah, rahang, atau untuk beberapa burung menggunakan paruh dan kaki buatan

 

 Seiring berjalannya waktu, tren taxidermy semakin populer, yaitu membekukan hewan secara kering (freezing dry). Metode freezing dry biasanya dilakukan pada reptil, burung, dan mamalia kecil seperti kucing, tikus besar, serta beberapa jenis anjing. Metode ini memang terlalu memakan waktu dan mahal. Kemudian ada istilah rogue taxidermy yang diperkenalkan oleh Minneapolis, keolmpok yang berbasis pada the Minnesota Association of RogueTaxidermists

            Asosiasi itu didirikan oleh Sarina Brewer, Scott Bibus, dan Robert Marbury. Lantas, ada istilah taxidermy antropomorfik, yakni tempat boneka binatang yang berpakaian layaknya orang, atau ditampilkan seolah-olah terlibat dalam kegiatan manusia. Metode ini sangat populer pada era Victoria dan Edward, tetapi gaya atau metode ini masih dapat kita temukan saat ini. Praktisi yang terkenal dengan metode ini adalah Walter Potter dan Edward Hart yang menggambarkan atau membuat seri tinju dua tupai merah.

Pengawetan basah dilakukan dengan menggunakan beberapa macam larutan pengawetan, yaitu sebagai berikut.

  1. Alcohol 70% sebagai  larutan fiksasidan pengawetan untuk hewan kecil
  2. Formalin 4%sebagai larutan pengawet hewan seperti katak, reptile, dan mamalia kecil.
  3. Formalin 2-3% sebagai larutan pengawet yang disuntikkan kedalam tubuh hewan berukuran besar selain direndam dengan larutan formalin 4%.

                  Salah satu cara yang baik untuk mempelajari serangga diantaranya ialah pergike lapangan dan kemudian kita mengadakan koleksi terhadap serangga-seranggatersebut. Akan tetapi mempelajari serangga tidak mungkin dilakukan di lapangan setiap jam pelajaran. Hal ini disebabkan karena terbatasnya waktu jam pelajaran. Untuk mengatasi hal tersebut dapat dilakukan dengan cara mengadakan koleksi terhadapserangga tersebut dan selanjutnya mengawetkannya.
 
            Mempelajari serangga dengan menggunakan koleksi serangga yang telahdiawetakan akan lebih menarik dibandingkan dengan hanya mempelajari serangga dari buku saja maupun mengamati gambar serangga yang ada pada buku.Tanpa diawetkan serangga-serangga tersebut mungkin hanya dapat dipakai satukali praktikum tetapi jika diawetkan dapat dipergunakan selama mungkin. Denganmengawetkan serangga yang telah dikoleksi kita tidak perlu sering mengadakan koleksiyang mungkin akan mengganggu keseimbangan alam. Taksidermi adalah hewan hasil pengawetan, biasanya golongan vertebrata yang dapat dikuliti. Pada pembuatan taksidermi, hewan dikuliti, organ-organ dalam dibuang, untuk selanjutnya dibentuk kembali seperti bentuk aslinya. Ewan-hewan vertebrata yang sering dibuat taksidermi misalnya berbagai jenis mamalia, kadal atau reptil, dsb. Taksidermi seringkali dipergunakan sebagai bahan referensi untuk identifikasi hewan vertebrata, juga menunjukkan berbagai macam ras yang dimiliki suatu spesies. Selain itu, tentu saja taksidermi dapat dijadikan sebagai media pembelajaran biologi.

                banyak orang yang terdorong oleh keinginan tahu, masuk ke kebun binatang yang terdapat di kota-kota besar di dunia ini. Mereka datang untuk melihat singa dan harimau, anjing laut dan singa laut, burung hantu dan burung elang, ular dan kura-kura. Yang juga menarik perhatian banyak orang ialah kebun raya. Di dalamnya dikumpulkan dan ditanam bermacam-macam tumbuhan hidup yang berasal dari berbagai-bagai tempat di seluruh dunia. Beberapa diantara tumbuhan-tumbuhan di kebun raya ini di tanam di tempat-tempat terbuka, lainnya dipelihara dalam rumah-rumah kaca yang besar.

Tentu saja, kita tidak usah bertempat tinggal di dekat kebun binatang/kebun raya, untuk dapat mempelajari aneka ragam makhluk hidup. Kita juga dapat pergi ke hutan, ke lapangan atau ke kolam untuk melihat rumput-rumput, semak-semak, dan pohon-pohon, ulat, kumbang dan cacing, burung kutilang, udang,, ular dan tikus. Juga di halaman rumah kita dapat menjumpai beratus-ratus macam tumbuhan dan hewan.

Tujuan Pengawetan Hewan

Apabila kita memperhatikan makhluk hidup dalam keadaan yang bagaimana saja, akhirnya kita akan memperoleh suatu gambaran mengenai keragaman yang terdapat diantara mereka. Bagi seorang pengunjung kebun binatang yang biasa datang pada hari Minggu, keanekaragaman itu mungkin hanya merupakan suatu gambaran yang singkat, lain tidak. Tetapi bagi mereka yang sudah menangkap arti ilmu pengetahuan, gambaran mengenai keanekaragaman makhluk hidup ini akan mendorong dan lebih membuka cakrawala pola pikir wawasan yang lebih luas lagi. Karena masih banyak ragam makhluk hidup daripada yang dapat dilihat dalam kebun binatang/kebun raya, yang akan menuntun sesorang betapa berjuta-juta jenis hewan atau tumbuhan yang tersebar di dunia ini, bahkan tidak tahu apakah jenis tersebut keragaman ataupun jumlahnya masih banyak atau tidak. Ini salah satu yang menjadi permasalahan mengapa kita perlu membuat pengawetan-pengawetan baik hewan ataupun tumbuhan dengan memperhatikan dan mematuhi prinsip-prinsip ekspolitasi, sehingga tidak menimbulkan suatu kerusakan/ketidakseimbangan lingkungan.

Sepeti yang telah dikemukakan sebelumnya, bahwa kita perlu/bisa membuat pengawetan hewan/tumbuhan antara lain karena :

  1. Keperluan belajar/pendidikan/koleksi (penelitian botani, zoologi, sistematik, morfologi, penyebaran, dan disiplin ilmu yang lain).
  2. Distribusi spesimen tertentu
  3. Kemelimpahan tidak setiap waktu
  4. Sebagai dokumen bukti-bukti kekayaan keanekaragaman (biodiversitas).

Dengan kata lain pengawetan hewan dan tumbuhan serta bagian-bagiannya diperlukan terutama untuk memenuhi kebutuhan masa yang akan datang, Tanpa adanya sistem pengawetan yang baik, hewan dan tumbuhan yang ditemukan dan dikoleksi dilapangan akan mengalami kerusakan, misalnya akibat pengerutan atau pembusukan. Herbarium adalah tekhnik mengawetkan tumbuhan dengan cara pengeringan atau bisa juga dengan meyimpan tumbuhan di dalam botol yang berisi larutan formalin. Herbarium kering dibuat dengan cara melekatkan sampel tanaman pada karton dan dipres menggunakan kayu penjepit, sedangkan herbarium basah dibuat dengan cara memasukan spesimen tanaman ke dalam botol yang berisi campuran larutan aquades dan formalin. pembuatan awetan spesimen diperlukan untuk tujuan pengamatan spesimen secara praktis tanpa harus mencari bahan segar yang baru. Terutama untuk spesimen-spesimen yang sulit di temukan di alam. Awetan spesimen dapat berupa awetan basah atau kering. untuk awetan kering, tanaman diawetkan dalam bentuk herbarium, sedangkan untuk mengawetkan hewan dengan sebelumnya mengeluarkan organ-organ dalamnya. awetan basah, baik untuk hewan maupun tumbuhan biasanya dibuat dengan merendam seluruh spesimen dalam larutan formalin 4%.
awetan yang telah dibuat kemudian dimasukkan dalam daftar inventaris koleksi. pencatatan dilakukan kedalam field book/collector book. sedangkan pada herbarium keterangan tentang tumbuhan dicantumkan dalam etiket. dalam herbarium ada dua macam etiket, yaitu etiket gantung yang berisi tentang; nomer koleksi, inisial nama kolektor, tanggal pengambilan spesimen dan daeran tingkat II tempat pengambilan (untuk bagian depan) dan nama ilmian spesimen (untuk bagian belakang).
pada etiket tempel yang harus dicantumkan antara lain; kop( kepala surat) sebagipengenal indentitas kolektor/lembaga yang menaungi, (No)nomer koleksi,(dd)tanggal ambil, familia, genus, spesies, Nom. Indig(nama lokal), (dd) tanggal menempel, (determinasi)nama orang yang mengidentifikasi spesimen itu, (insula) pulau tempat mengambil, (m. alt) ketinggian tempat pengambilan dari permukaan air laut, (loc) kabupaten tempat pengambilan, dan (annotatione) deskripsi spesimen tersebut.

Bioplastik adalah tekhnik mengawetkan spesimen hewan atau tumbuhan dalam adonan resin yang apabila sudah mengeras akan berbentuk seperti kaca transparan. Tekhnik membuatnya dimulai dengan menuangkan 2 mm resin ke dalam cetakan untuk membuat lapisan dasar, setelah itu membuat lapisan pengikat spesimen dan lapisan terakhir adalah lapisan penutup lalu setelah mengering tinggal dilakukan finishing yaitu penghalusan permukaan bioplastik dengan menggunakan amplas pada kondisi basah agar tidak menimbulkan debu yang berbahaya bagi kesehatan.

Selain untuk ilmu pengetahuan, herbarium dan bioplastik juga bisa dimanfaatkan secara ekonomi yaitu dalam bentuk pernak-pernik cinderamata atau dengan tekhnologi yang lebih canggih bisa dimanfaatkan untuk menghasilkan benda-benda bernilai jual tinggi.

Selanjutnya para peserta pelatihan bisa mengikuti lomba pembuatan herbarium dan bioplastik. Para santri bisa menunjukan kretifitasnya dalam membuat herbarium dan bioplastik yang bukan hanya bermanfaat sebagai bahan pembelajaran tapi juga menarik dari segi artistik. pembuatan awetan spesimen diperlukan untuk tujuan pengamatan spesimen secara praktis tanpa harus mencari bahan segar yang baru. Terutama untuk spesimen-spesimen yang sulit di temukan di alam. Awetan spesimen dapat berupa awetan basah atau kering. untuk awetan kering, tanaman diawetkan dalam bentuk herbarium, sedangkan untuk mengawetkan hewan dengan sebelumnya mengeluarkan organ-organ dalamnya. awetan basah, baik untuk hewan maupun tumbuhan biasanya dibuat dengan merendam seluruh spesies.awetan yang telah dibuat kemudian dimasukkan dalam daftar inventaris koleksi. pencatatan dilakukan kedalam field book/collector book. sedangkan pada herbarium keterangan tentang tumbuhan dicantumkan dalam etiket. dalam herbarium ada dua macam etiket, yaitu etiket gantung yang berisi tentang; nomer koleksi, inisial nama kolektor, tanggal pengambilan spesimen dan daeran tingkat II tempat pengambilan (untuk bagian depan)
pada etiket tempel yang harus dicantumkan antara lain; kop( kepala surat) sebagipengenal indentitas kolektor/lembaga yang menaungi, (No)nomer koleksi,(dd)tanggal ambil, familia, genus, spesies, Nom. Indig(nama lokal), (dd) tanggal menempel, (determinasi)nama orang yang mengidentifikasi spesimen itu, (insula) pulau tempat mengambil, (m. alt) ketinggian tempat pengambilan dari permukaan air laut, (loc) kabupaten tempat pengambilan, dan (annotatione) deskripsi spesimen tersebut. Dalam praktikum biologi khususnya Zoologi dan Botani lazimnya dibutuhkan spesimen (contoh) segar. Kadang-kadang kebutuhan ini sulit untuk dipenuhi karena memerlukan persediaan hewan-hewan hidup dan tidak semua jenis hewan dan tumbuhan bisa dipelihara di laboratorium atau sekitarnya. Oleh karena itu untuk kepentingan praktikum disediakan spesimen awetan.

Pembuatan awetan spesimen diperlukan untuk tujuan pengamatan spesimen secara praktis tanpa harus mencari bahan segar yang baru. Terutama untuk spesimen-spesimen yang sulit di temukan di alam. Awetan spesimen dapat berupa awetan basah atau kering, untuk awetan kering, tanaman diawetkan dalam bentuk herbarium. Awetan basah, baik untuk hewan maupun tumbuhan biasanya dibuat dengan merendam seluruh spesimen dalam larutan formalin 4%.

Awetan yang telah dibuat kemudian dimasukkan dalam daftar inventaris koleksi. pencatatan dilakukan kedalam field book/collector book. sedangkan pada herbarium keterangan tentang tumbuhan dicantumkan dalam etiket. dalam herbarium ada dua macam etiket, yaitu etiket gantung yang berisi tentang; nomer koleksi, inisial nama kolektor, tanggal pengambilan spesimen dan daeran tingkat II tempat pengambilan (untuk bagian depan) dan nama ilmiah
dan etiket tempel yang harus dicantumkan dalam etiket temple antara lain; kop( kepala surat) sebagai pengenal indentitas kolektor/lembaga yang menaungi, (No) nomer koleksi, (dd) tanggal diambil, familia, genus, spesies, Nom. Indig(nama lokal), (dd) tanggal menempel, (determinasi) nama orang yang mengidentifikasi spesimen itu, (insula) pulau tempat mengambil, (m. alt) ketinggian tempat pengambilan dari permukaan air laut, (loc) kabupaten tempat pengambilan, dan (annotatione) deskripsi spesimen tersebut   Insectarium adalah sampel jenis serangga hidup yang ada di kebun binatang, atau museum atau pameran tinggal serangga. Insectariums sering menampilkan berbagai jenis serangga dan arthropoda yang mirip, seperti laba-laba, kumbang, kecoa, semut, lebah, kaki seribu, kelabang, jangkrik, belalang, serangga tongkat, kalajengking dan Belalang sembah alat2 dan bahan2nya mungkin belum tercantum, tetapi mungkin ini sangat membantu.

            Insectarium adalah sampel jenis serangga hidup yang ada di kebun binatang, atau museum atau pameran tinggal serangga. Insectariums sering menampilkan berbagai jenis serangga dan arthropoda yang mirip, seperti laba-laba, kumbang, kecoa, semut, lebah, kaki seribu, kelabang, jangkrik, belalang, serangga tongkat, kalajengking dan Belalang sembah.

Pada pembelajaran biologi, di beberapa materi, misalnya sistem rangka memerlukan media pembelajaran asli. Untuk melihat bagaimana susunan tulang-tulang pembentuk rangka dalam keadaan dan posisi sebenarnya di dalam tubuh hewan yang diawetkan seperti tikus, kodok, kadal, burung, ikan, dsb., kita harus membuat jaringan-jaringan yang menutupi rangka hewan-hewan tersebut menjadi transparan. Tulang-tulang penyusun rangka akan dapat diamati dengan mudah pada kedudukan aslinya karena jaringan otot telah berubah menjadi transparan. Plastination adalah teknik untuk menjaga tubuh atau bagian tubuh agar tetap awet dengan menggantikan komponen air dan lemak pada tubuh atau organ mahluk hidup dengan jenis plastik tertentu, sehingga menghasilkan spesimen yang bisa disentuh, tidak berbau atau busuk, dan bahkan mempertahankan sifat sebagian besar sampel asli. Plastination diciptakan oleh ahli anatomi Jerman Gunther von Hagens pada tahun 1977, dan ia kemudian mendirikan Institut Plastination di Heidelberg pada tahun 1993.Plastination awalnya digunakan untuk mengawetkan spesimen kecil untuk penelitian medis. sampai awal tahun 90-an peralatan ini dikembangkan untuk memungkinkan plastinasi spesimen seluruh tubuh. Pameran pertama dari seluruh tubuh yang diselenggarakan di Jepang pada tahun 1995. Selama dua tahun ke depan, Von Hagens mengembangkan pameran Body Worlds, menampilkan seluruh tubuh manusia hidup yang diplastinasi dalam pose dan dibedah untuk menunjukkan berbagai struktur dan sistem anatomi manusia, yang telah menjadi kebutuhan untuk kepentingan umum juga kontroversi di lebih dari 50 kota di seluruh dunia .

Plastination merupakan proses yang rumit dengan setiap spesimen membutuhkan sampai 1.500 jam kerja sampai hasil plastinasi siap. Plastinasi Jerapah butuh waktu tiga tahun untuk menyelesaikan; gajah buth waktu 64.000 jam. Dr von Hagens juga membuat plastinasi tubuh manusia , yang merupakan sumber dari semua kontroversi. Akhir-akhir ini muncul fenomena penjualan binatang-binatang & burung-burung nan diawetkan. Kami sangat mengharapkan Anda setelah melakukan pemantauan terhadap hal tersebut utk memberikan fatwa kepada saya mengenai hukum memiliki binatang-binatang & burung-burung nan diawetkan. Dan apa hukum menjual benda tersebut. Apakah ada perbedaan antara nan haram dimiliki dlm keadaan masih hidup & apa nan boleh dimiliki dalam keadaan hidup pada saat diawetkan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

LEMBAR KERJA PRAKTIKUM Ke-1

 

Judul Praktikum                   :  Teknik Pengawetan Kering ( Bioplastik )

Tujuan                                   :-Untuk mengetahui macam-macam teknik pengawetan specimen.

-Untuk mengetahui langkah pengerjaan teknik pengawetan kering dengan cara bioplastik.

Hari, Tanggal                        : Jum’at, 6 Juli 2012

 

 
   

 

Alat dan Bahan

-          Resin 1L

-          Indikotor resin

-          Tumbuhan

-          Cetakan

-          Gelas ukur/aqua gelas

-          Pengaduk

 

Cara Kerja

-          menyiapkan alat dan bahan

 

       
       

 

 

 

 

 

 

-          memilih tumbuhan yang akan di awetkan

 

 
   

 

 

 

 

 

 

-          mencuci tumbuham tersebut menggunakan air hingga bersih.

-          mengukur air sebanyak 100ml di dalam gelas ukur, lalu di masukan ke dalam aqua gelas,ukuran 100ml di beri tanda,kemudian air di buang. hal itu untuk membuat patokan ukuran 100ml dalam aqua gelas.

 

-          Memasukan resin pada gelas aqua sebnyak 100ml

 

       
     
   
 

 

 

 

 

 

-          Mencampurkan 100ml resin dan indikator( 20 tetes )

 

 

 

 

 

-          Mengaduk secara perlahan

 

 

 

 

 

 

-          Menuangkan campuran resin ke dalam cetakan, di diamkan selama 15 menit

 

 

 

 

-          Menyusun tumbuhan pada permukaan resin tersebut

 

           
           
 

 

 

 

 

-          Membuat kembali campuran resin 100ml + indikato ( 20 tetes )

-          Menuangkan campuran tersebut hingga rata

-          Kemudian di diamkan hingga mengering

 

 
   

 

 

 

 

Pembahasan

 

Berdasarkan tujuan dari percobaan kami mencoba membuat bioplastik ini menjadi sebuah media pembelajaran  yang dapat mendukung proses pembelajaran mengenai tepi-tepi dan ujung daun dalam mata kuliah morfologi tumbuhan.

Pada proses pembuatannya, bahan yang digunakan dalam pengawetan bioplastik ini diataranya menggunakan resin sebagai bahan utama. Resin memiliki berbagai  kualitas yang berbeda,  dalam hal ini kualitas resin sangat menentukan hasil akhir dari bioplastik ini. Selain itu indikator pun sangat mempengaruhi hasil akhir.

Dalam teknik penbuatannya sebaiknya memperhatikan ketelitian dalam pengerjaan dari mulai objek yang akan digunakan,  keadaan tumbuhan yang harus dalam keadaan bersih, hingga pengadukan campuran resin dengan  indikator  resin. Hal ini dilakukan agar  bioplastik yang dihasilkan dapat seesuai dengan apa yang diinginkan.

Selain itu hal yang perlu diperhatikan selanjutnya yaitu tetap berhati-hati ketika  menuangkan campuran resin ke dalam cetakan hinnga resin rata dan tidak terdapat gelembung.  

Namun berdasarkan  percobaan yang telah kami lakukan ternyata hasil akhir tidak sesuai dengan apa  diinginkan. Hasil akhir dari bioplastik kami yaitu terdapat tumbuhan –tumbuhan yang hangus, berubah menjadi kecoklatan dan resin terlihat agak retak. Hal yang kami lakukan yaitu seharusnya untuk spesimen tumbuhan sebelumnya dikeringkan terlebih dahulu, sehingga dapat menghasilkan hasil akhir yang lebih optimum lagi.

 

 

LEMBAR KERJA PRAKTIKUM Ke-2

 

Judul praktikum       : Taksidermi

Tujuan                       :  1. Mengetahui cara pembuatan taksidarmi.

2. Mengetahui kerangka tulang pada salah satu jenis  hewan vertebrata.

Hari, Tanggal            : Jum’at, 13 Juli 2012

Alat dan Bahan

-          Hewan ( Katak\kodok )

-          Klorofom

-          Sabun cuci putih

-          Alat bedah

-          Gelas kimia

-          Sarung tanngan plastik

-          Masker

-          Kertas Label

-          Bingkai

-          Karton

Cara kerja

-          Menyiapkan alat dan bahan.

-          Membius kodok menggunakan klorofom.

-          Meletakan kodok yang telah di bius pada wadah.

-          Menusukan jarum pada tangan dan kaki kodok tersebut.

-          Menbuat sayatan di bawah perut kodok dengan mengggunakan gunting bedah.

-          Menbedah kodok tersebut dan mengeluarkan dalaman perutnya hingga bersih.

-          Mencuci kodok tersebut menggunakan air hingga bersih.

 

-          Merebus kodok tersebut selama 20 menit menggunakan campuran air dan sabun.

-          Mengangkat kodok yang sudah di rebus lalu memisahkan tulang dari otot-ototnya (daging)

-          Menjemur tulang terbebut

-          Setelah kering kemudian tulang di rangkai

 

Pembahasan

            Pada percobaan taksidermi ini kami menggunakan kodok ( Buffo sp ) sebagai objek utama. Buffo sp merupakan hewan vertebrata yang pada umumnya hidup di batu-batu.

            Langkah pertama yang kami lakukan ketika kami akan mengawetan  kodok dengan cara taksidermi yaitu terlebih dahulu memerhatikan ukuran kodok. Hal ini dikarenakan semakin kecil ukuran kodok maka akan semakin kecil pula rangka dalamnya. Oleh karena itu kami memilih kodok dengan ukuran agak besar sehingga dapat mempermudah proses pembentukan kembali ( stuffing ).

Dalam proses percobaan setiap tahap kami lakukan dengan baik dan cukup memenuhi prosedur dari mulai membius, membedah, membersihkan tubuhnya, merebus untuk meluruhkan ototnya, hingga melucuti semua otot yang masih menempel dan akhirnya yang bersisa hanyalah kerangka dalamnya.

Berdasarkan percobaan yang telah kami lakukan hal seharusnya diperhatikan yaitu saat proses perebusan. Proses perebusan dilakukan hingga otot-otot yang melekat pada kulit benar-benar meluruh, sehingga dapat memudahkan pada waktu proses pembersihan. Jika pada waktu proses pembersihan dilakukan dengan cermat dan teliti maka nantinya kerangka kodokpun tidak meninggalkan bau dari sisa otot busuk yang masih melekat pada tulang ( rangka tubuhnya ).

 

 

 

 

Foto Proses Percobaan

 

                           
               
 
     
       
       
 
 
     
   
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

                                                                                       

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

Anonimous.2012.http://suhadinet.wordpress.com/2009/08/07/cara-membuat-taksidermi-awetan-kering-hewan/ [22-07-2012] 11.57

Anonimous.2012.http://mediapendidikanok.blogspot.com/2009/10/mengawetkan-hewan-dan-tumbuhan_27.html [24-07-2012] 13.56

Anonimous.2012.http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/tmp/Pelatihan%20Media%20Bioplastik%20Untuk%20Guru.pdf [24-07-2012] 11.56

Kurniasih, Surti. 2008. Penuntun Praktikum Morfologi Tumbuhan. Bogor : Prodi Biologi FKIP Universitas Pakuan Bogor.

 

 

 

 

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s